Headlines News :
Home » » PENGALAMAN HIDUPKU

PENGALAMAN HIDUPKU

Written By NUHIN on Selasa, 25 Oktober 2011 | 14.32


Asli reeek ...  bukan teknik montase
Asli reeek ... bukan teknik montase
WONG nDESO NAIK PESAWAT TERBANG
Deru suara mesin si raja udara ”Citilink” meninggalkan Bandara Juanda Surabaya. Itu terjadi  pada tanggal 22 Maret 2013 jam 14.25 WIB. Bagi kebanyakan orang di bandara dan sekitarnya, itu peristiwa yang biasa. Bagiku itu adalah peristiwa yang bersejarah. Hari itu merupakan pertama kali aku naik pesawat terbang. Momen yang telah kubayangkan 25 tahun yang lalu ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di Sidoarjo.
Ketika itu setiap beberapa menit ada pesawat terbang yang melintas di atas desa Sawohan, kubayangkan kapan aku bisa naik pesawat terbang. Bahkan aku sering berkelekar dengan Pak Mahfudz - salah satu dari teman seperjuanganku -, jika salah satu dari kami yang pertama kali naik pesawat harus berkirim surat. Kala itu belum ada yang namanya HP. Hanya suratlah saat itu alat komunkasi yang efektif.
Tepat pukul 14.15 aku mulai masuk pesawat setelah melalui lorong garba rata yang panjang. Garba rata adalah sebuah nama lorong yang menghubungkan ruang tunggu dengan pesawat terbang agar penumpang tidak kepanasan atau kehujanan. Nama itu seingat saya dibuat oleh presiden Soeharto sekitar 30 tahun yang lalu. Aku mendapat tempat duduk yang berisi tiga. Meskipun pada tiketku, aku mendapat seat di tengah, tapi aku memilih duduk di pinggir jendela dan kebetulan agak dibelakang sayap, sangat pas untuk merekam momen yang langka seperti yang aku rencanakan. Alhamdulillah yang punya tempat duduk tidak komplain alias mempersilakan aku duduk di pinggir jendela. 
Setelah duduk, hatiku dag dig dug, pikiranku membayangkan apa yang terjadi. Mesin dihidupkan, pesawatpun mulai menempati runway yang menandakan siap take off. Benar. Pesawatpun melesat di atas landasan pacu sepanjang 1.500 m dan akhirnya take off. Di saat take off badanku terasa melayang, darahku mendesir naik yang membuat perutku agak mual. Aku berusaha agar aku tidak muntah. Meski dalam keadaan badan yang menahan mual, kumanfaatkan untuk merekam melalui jendela detik-detik yang menegangkan itu dengan kamera digital. Makin lama makin tinggi hingga mencapai ketinggian maksimal  kira-kira 30.000 m. Di ketinggian itu dari balik jendela hanya terlihat langit yang biru dan gumpalan-gumpalan awan putih jauh di bawah pesawat. Di ketinggian itu aku mulai ada masalah. Telingaku terasa tuli tidak terdengar apa-apa sampai-sampai deru mesin pesawatpun tidak terdengar. Pikiranku mulai berkecamuk macam-macam. Di ketinggian itu andaikan pesawat mati mesin –karena tak terdengar suara mesin- apa yang terjadi. Aku mulai melafalkan semua apa yang aku hafal. Mulai dari do’a bepergian, shalawat, sampai do’a naik kapalpun kulafalkan.
Beberapa menit menjelang landing timbul masalah lagi. Pesawat menerobos mendung sehingga terjadi goncangan. Perutkan makin terasa mual. Ditambah lagi pesawat yang telah mengurangi ketinggian kembali dinaikkan untuk mengindari awan. Hampir-hampir aku muntah. Al hamdulillah setelah terbang selama sekitar 1 jam pesawat landing juga. Tepat jam 16.25 WITA pesawat mendarat di Bandara Internasional Lombok (BIL). Aku turun dari pesawat dalam keadaan perut mual, telinga budek dan kepala pusing. Dalam perjalanan menuju pemeriksaan di bandara Lombok itu,  aku membayangkan bagaimana kalau naik pesawat lagi ketika kembali ke Juanda. Belum lagi membayang bagaimana kalau nanti cuacanya kurang bersahabat. Ada perasaan sedikit trauma walau tidak sampai Aviaphobia.
Aku di Lombok 3 hari 2 malam. Siang jam 10.00 WITA, sebelum pulang aku minum obat anti mabuk. Padahal naik pesawatnya masih sekitar jam 17.00 WITA. Agar efektif aku minum dua tablet. Ternyata aku agak over dosis. Badan terasa lemah lunglai. Mata tidak bisa dibuka sehingga aku benar-benar lemas. Dalam perjalanan menuju BIL aku hanya tidur terkulai di jok bus. Untungnya aku menempati 2 kursi sehingga aku agak leluasa bergerak.
Sesampainya di bandara pikiranku mulai nggak karuan. Jangan-jangan aku nanti muntah di pesawat. Alangkah malunya aku. Aku antisipasi menyiapkan plastik kresek untuk persiapan jika muntah nanti. Seperti waktu berangkat. Aku mulai masuk pesawat melalui garba rata. Seperti waktu  berangkat juga aku memilih duduk di pinggir jendela meskipun pada tiket bukan seatku. Kupersiapkan kamera untuk merekam momen di atas pesawat. Ternyata seat itu milik karyawan BRI Jaunda. Alhamdulillah-nya dia tidak menuntut aku untuk pindah tempat. Mungkin dia berfikir ‘telungane aku sing gelek numpak pesawat’ tak memberi kesempatan wong ndeso yang gak pernah naik pesawat. Ternyata apa yang kubayangkan dan yang aku takutkan tidak terbukti. Aku naik dengan nyaman, meski telinga masih budek tapi  nggak ada rasa mual atau pusing. Tapi yang tetap, ketika pada ketinggian maksimum masih membayangkan andai mesin pesawat mogok. Ya, kalau naik angkot, bila mogok penumpang disuruh turun untuk mend0rong. Apa mungkin jika pesawat mogok, pilot berteriak,” Penumpang semua turun, ayo ikut ndorong, pesawatnya mogok!!” Kan nggak lucu tapi andaikan benar, ya looooooucu.
Yaaaaa, begitulah kisah wong ndeso naik pesawat. Semoga saya dapat naik lagi entah waktu pergi haji atau umrah. Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin





Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Nuhin Yede - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger