| Asli reeek ... bukan teknik montase |
WONG nDESO NAIK PESAWAT TERBANG
Deru
suara mesin si raja udara ”Citilink” meninggalkan Bandara Juanda Surabaya. Itu
terjadi pada tanggal 22 Maret 2013 jam
14.25 WIB. Bagi kebanyakan orang di bandara dan sekitarnya, itu peristiwa yang
biasa. Bagiku itu adalah peristiwa yang bersejarah. Hari itu merupakan pertama
kali aku naik pesawat terbang. Momen yang telah kubayangkan 25 tahun yang lalu
ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di Sidoarjo.
Ketika itu setiap beberapa
menit ada pesawat terbang yang melintas di atas desa Sawohan, kubayangkan kapan
aku bisa naik pesawat terbang. Bahkan aku sering berkelekar dengan Pak Mahfudz -
salah satu dari teman seperjuanganku -, jika salah satu dari kami yang pertama
kali naik pesawat harus berkirim surat. Kala itu belum ada yang namanya HP.
Hanya suratlah saat itu alat komunkasi yang efektif.
Tepat pukul 14.15 aku mulai
masuk pesawat setelah melalui lorong garba rata yang panjang. Garba rata
adalah sebuah nama lorong yang menghubungkan ruang tunggu dengan pesawat
terbang agar penumpang tidak kepanasan atau kehujanan. Nama itu seingat saya dibuat
oleh presiden Soeharto sekitar 30 tahun yang lalu. Aku mendapat tempat duduk
yang berisi tiga. Meskipun pada tiketku, aku mendapat seat di tengah, tapi aku
memilih duduk di pinggir jendela dan kebetulan agak dibelakang sayap, sangat
pas untuk merekam momen yang langka seperti yang aku rencanakan. Alhamdulillah
yang punya tempat duduk tidak komplain alias mempersilakan aku duduk di pinggir
jendela.
Setelah duduk, hatiku dag
dig dug, pikiranku membayangkan apa yang terjadi. Mesin dihidupkan, pesawatpun mulai
menempati runway yang menandakan siap take off. Benar. Pesawatpun melesat di
atas landasan pacu sepanjang 1.500 m dan akhirnya take off. Di saat take off
badanku terasa melayang, darahku mendesir naik yang membuat perutku agak mual.
Aku berusaha agar aku tidak muntah. Meski dalam keadaan badan yang menahan
mual, kumanfaatkan untuk merekam melalui jendela detik-detik yang menegangkan
itu dengan kamera digital. Makin lama makin tinggi hingga mencapai ketinggian
maksimal kira-kira 30.000 m. Di
ketinggian itu dari balik jendela hanya terlihat langit yang biru dan
gumpalan-gumpalan awan putih jauh di bawah pesawat. Di ketinggian itu aku mulai
ada masalah. Telingaku terasa tuli tidak terdengar apa-apa sampai-sampai deru
mesin pesawatpun tidak terdengar. Pikiranku mulai berkecamuk macam-macam. Di
ketinggian itu andaikan pesawat mati mesin –karena tak terdengar suara mesin-
apa yang terjadi. Aku mulai melafalkan semua apa yang aku hafal. Mulai dari do’a
bepergian, shalawat, sampai do’a naik kapalpun kulafalkan.
Beberapa menit menjelang
landing timbul masalah lagi. Pesawat menerobos mendung sehingga terjadi goncangan.
Perutkan makin terasa mual. Ditambah lagi pesawat yang telah mengurangi
ketinggian kembali dinaikkan untuk mengindari awan. Hampir-hampir aku muntah.
Al hamdulillah setelah terbang selama sekitar 1 jam pesawat landing juga. Tepat
jam 16.25 WITA pesawat mendarat di Bandara Internasional Lombok (BIL). Aku
turun dari pesawat dalam keadaan perut mual, telinga budek dan kepala pusing.
Dalam perjalanan menuju pemeriksaan di bandara Lombok itu, aku membayangkan bagaimana kalau naik pesawat
lagi ketika kembali ke Juanda. Belum lagi membayang bagaimana kalau nanti
cuacanya kurang bersahabat. Ada perasaan sedikit trauma walau tidak sampai
Aviaphobia.
Aku di Lombok 3 hari 2
malam. Siang jam 10.00 WITA, sebelum pulang aku minum obat anti mabuk. Padahal
naik pesawatnya masih sekitar jam 17.00 WITA. Agar efektif aku minum dua
tablet. Ternyata aku agak over dosis. Badan terasa lemah lunglai. Mata tidak
bisa dibuka sehingga aku benar-benar lemas. Dalam perjalanan menuju BIL aku
hanya tidur terkulai di jok bus. Untungnya aku menempati 2 kursi sehingga aku
agak leluasa bergerak.
Sesampainya di bandara
pikiranku mulai nggak karuan. Jangan-jangan aku nanti muntah di pesawat.
Alangkah malunya aku. Aku antisipasi menyiapkan plastik kresek untuk persiapan
jika muntah nanti. Seperti waktu berangkat. Aku mulai masuk pesawat melalui
garba rata. Seperti waktu berangkat juga
aku memilih duduk di pinggir jendela meskipun pada tiket bukan seatku.
Kupersiapkan kamera untuk merekam momen di atas pesawat. Ternyata seat itu
milik karyawan BRI Jaunda. Alhamdulillah-nya dia tidak menuntut aku untuk
pindah tempat. Mungkin dia berfikir ‘telungane aku sing gelek numpak
pesawat’ tak memberi kesempatan wong ndeso yang gak pernah naik pesawat.
Ternyata apa yang kubayangkan dan yang aku takutkan tidak terbukti. Aku naik
dengan nyaman, meski telinga masih budek tapi
nggak ada rasa mual atau pusing. Tapi yang tetap, ketika pada ketinggian
maksimum masih membayangkan andai mesin pesawat mogok. Ya, kalau naik angkot,
bila mogok penumpang disuruh turun untuk mend0rong. Apa mungkin jika pesawat
mogok, pilot berteriak,” Penumpang semua turun, ayo ikut ndorong, pesawatnya
mogok!!” Kan nggak lucu tapi andaikan benar, ya looooooucu.
Yaaaaa, begitulah kisah wong
ndeso naik pesawat. Semoga saya dapat naik lagi entah waktu pergi haji atau
umrah. Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin