Mendung
hitam kelam menutupi kota Jombang. Sungai Berantas jebol dengan suara yang
gemuruh. Hujan abu turun dengan pekatnya. Orang-orang panik berlarian ke sana
kemari tidak tahu arah tujuan kadio gabah diinteri (seperti
padi ditampi). Mereka menganggap kiamat telah datang. Makin siang air bah makin
meninggi sehingga rumah-rumah hanya kelihatan atap-atapnya. Orang-orang
masing-masing berusaha menyelamatkan diri sendiri dari banjir pandang begitu
cepat tersebut.
Hari itu (Kamis pahing, 11 Desember 1964 (?)
lahirlah bayi yang menambah isi dunia yaitu aku. Karena aku lahir di tengah
banjir dan ditolong oleh team SAR ke dalam perahu maka orang tuaku tafa’ul
kepada nabi yang yang mengalami peristiwa banjir yaitu nabi Nuh sehingga
aku diberi nama Nuh(in).
Aku lahirkan di desa Brangkal Perak Jombang. Aku
anak pertama yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat kekurangan. Ayahku
bekerja sebagai pencari kayu di hutan sedangkan ibuku sebagai ibu rumah
tangga yang sakit-sakitan karena terkena radang paru-paru. Ibu sering keluar masuk
rumah sakit Karangmenjangan. Bahkan sering terpaksa aku tinggal di
Surabaya karena ibu harus di rumah sakit berbulan-bulan.
Ketika kau berumur sekitar 3 tahun, aku mempunyai
adik perempuan. Tetapi dia tidak berumur panjang. Dia meninggal ketika masih
bayi. Sekitar setahun berikutnya aku mempunyai adik lagi laki-laki. Setelah
lahir adikku kedua ini, ibuku sakit paru-paru semakin parah yang
mengakibatkan meninggal dunia ( اللهم اغفرلها وارحمها وعافها واعف عنها) . Sepeninggal ibuku, aku dan adikku
sehari-hari diasuh oleh nenekku.
AKU MASUK SEKOLAH
Ketika aku umur 5 tahun aku mulai masuk TK di
dekat rumahku. Aku kurang ingat peristiwa yang terjadi ketika aku di TK. Yang
kuingat hanya guruku yang sampai sekarang masih hidup semua. Antara lain : Bu
Zaidah, Bu Mu’ah, Bu Umi, Bu Nas, dan Bu Masri’ah. Aku di TK selama 2 tahun
kemudian ke madrasah ibtidaiyah di yayasan yang sama.
AKU MASUK MI
Aku masuk madrasah ibtidaiyah pada
tahun 1971 di MINU Brangkal (sekarang berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Raudlatul
Ulum (MIRU). Madrasahku menerapkan kurikulum semi diniyah. Selain pelajaran
pelajaran umum yang sama dengan SD, terdapat konten pelajaran pondok pesantren.
Antara lain ada ilmu alat (nahwu, sharaf, I’lal), tajwid (hidayatush
shibyan, tuhfatul athfal), aqidah-akhlaq (aqidatul awam, ta’limul
muta’allim), tarih/sejarah Islam (khalashatu nurul yaqin),
Pada waktu kelas tiga, ayahku kawin lagi. Ibu tiriku mempunyai dua anak
laki-laki sedangkan ayahku juga mempunyai dua anak laki-laki. Jadi kami menjadi
berempat. Meskipun ibu tiri, ibuku tidak seseram yang seperti sering ada dalam
cerita film atau sinetron. Ibuku tidak pernah memarahiku sekalipun. Dia tidak
pernah membeda-bedakan semua anaknya. Setahun kemudian aku mempunyai adik
laki-laki. Maka genapkan lima bersaudara lelaki semua.
Di waktu MI aku hidup dalam keluarga yang serba
kekurangan. Selama di MI belum pernah aku diberi uang saku oleh orang tua saya.
Pakaian sekolahku hanya satu setel. Baju dan celana kolor yang setiap saat
dipelorot teman-temanku. Apalagi aku adalah anak yang paling kalahan di antara
sebayaku. Meski serba kekurangan, tidak menyurutkan aku untuk selalu
berprestasi dalam belajar. Ketika naik kelas enam, aku mulai memakai sepatu dan
mulai mempunyai seragam pramuka. Sekaligus pertama kali sekolahku mengikuti
perkemahan di tingkat kecamatan.
Alhamdulillah selama aku di MI mulai kelas 1 sampai kelas VI, selalu mendapat
rangking pertama. Guru favoritku adalah Pak Muslimin, dan Pak Manshur Asmu’i.
AKU MASUK SLTP
Aku sekolah di SMP Al-huda di desaku
sendiri sekitar 3 km dari rumahku. Di SMP aku sering berjalan kaki jika sepeda
bututku rusak. Di SMP pun saya tidak pernah diberi uang saku. Alhamdulillah aku
juga selalu mendapat rangking pertama selama di SMP. Bahkan di ujian akhir aku
mendapat bea siswa dari Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) di Bogor.
Persyaratan pun telah dikirim oleh Pak Yusdi sekarang sudah wafat.( اللهم اغفرله وارحمه وعافه واعف عنه), tapi satu minggu sebelum berangkat, kubatalkan
sepihak karena pertimbangan jauh dari orang tua. Maklum pikiran anak masih SMP
ketika itu. Pak Yus pun marah–aku maklum atas marahnya Pak Yus karena beliau
sudah melengkapi persyaratan lalu mengirimkannya dan juga beliau bangga karena
anak didiknya ada yang dapat bea siswa. Akhirnya aku memutuskan tidak
melanjutkan lagi ke SLTA karena ketidakadaan biaya sekolah.
Guru
favoritku, Pak Yusdi Ghozali dan Pak Mas’ud.
AKU MASUK SLTA
Selama hampir empat bulan setelah taman SMP, aku beraktifitas membantu orang
tua menjadi buruh tani karena sudah tidak bersekolah. Maklum karena tidak punya
sawah. Selain mencangkul, juga memelihara kambing dan kerbau.
Suatu pagi hari ada utusan dari Pak Yus yang
menanyakan kepadaku mengapa aku tidak sekolah. Yang akhirnya PakYus
menawarkan jika saya mau saya dimasukkan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN)
Kertosono. Dalam hatiku bertanya apa bisa sekolah sedangkan sekolah sudah
berjalan empat bulan, ke sekolah negeri pula. Aku pun mengiyakannya. Akhirnya
aku diberi surat katebelece dari pak Yus untuk dibawa ke MAN tersebut. Dan
Alhamdulillah aku diterima berkat usaha dari Pak Yus.
Sekolahku kurang lebih 15 km dari rumahku. Harus
melewati Sungai Brantas pula. Aku bersekolah menggunakan sepeda butut yang
diberi Bude dari Surabaya. Kadang sering sepeda itu los sehingga telat sampai
di sekolah. Aku menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, aku berangkat
sebelum pukul 06.00 pagi. Sekali lagi, saya tidak pernah diberi sangu
oleh orang tuaku. Jangankan sangu, sarapan pun kadang ada kadang tidak. Kadang
ada sarapan tapi masih setelah matang dan pernah beberapa kali sarapan nasi
jagung basi sisa hari sebelumnya.
Memang. Disaat aku SMA ini, keluargaku
betul-betul dalam titik kritis di bidang ekonomi. Ayahku buruh tani yang
upahnya dibuat membeli beras saja tidak cukup. Anaknya lima bersekolah semua.
Setiap hari kami hanya makan nasi jagung tanpa lauk. Bahkan sering hanya makan
ubi yang diberi garam. Tapi orangtuaku mempunyai falsafah yang sederhana tapi
mempunyai arti yang sangat dalam. Setiap kali kami makan ketela mereka selalu
berkata “Wong gak nitik telekmu tapi nitik kepinteranmu” (Orang
tidak melihat kotoranmu tapi melihat kepandaianmu)”. Maksudnya, makan tidak
menjadi prioritas tapi pendidikan yang dinomorsatukan. Sekolahlah yang penting.
Yang tidak bisa hilang dari ingatanku, ketika aku
setengah tahun menjelang ujian akhir MAN. Sekolahku mengadakan les pada sore
hari sekitar jam 15.00 dan pulang jam 17.00. Kalau Saya pulang gak mungkin.
Perjalanan pulang balik 2 jam belum untuk makan dan lain –lain. Solusinya
setelah pulang sekolah, aku tidur di masjid pondok. Sementara itu teman-temanku
yang lain pergi ke warung untuk makan siang. Bila aku lapar atau haus, aku
hanya minum air sumur masjid. Jadi selama sehari penuh, aku tidak makan. Hal
ini aku jalani sampai tiba masa ujian akhir. Tahun 1983 aku tamat dari MAN.
MENJADI AKTIFIS
Setelah lulus MAN aku tidak punya
planning sama sekali. Rutinitasku pagi ke sawah sampai jam 10.00 sore kembali
ke sawah jam 1 sampai jam 5 sore. Malam ke masjid sampai pagi. Monoton sekali.
Perlu diketahui tradisi anak di desaku tidak ada anak remaja yang tidur di
rumah. Hampir semua tidur di musholla (langgar) atau di masjid. Sejak SMP kelas
1 aku sudah tidak pernah tidur di rumah. Selain bisa sholat Shubuh,
menjadi aktifis masjid dapat mengikuti kegiatan keagamaan, antara lain :
dibaiyah, hadrah (terbangan), dan barzanji.
Sedang organisasi struktural yang saya ikuti adalah Ikatan Pelajar Nahdhatul
Ulama’ (IPNU) baik tingkat ranting maupun tingkat MWC (tingkat Kecamatan). Di
organisasi itulah saya menjadi orang yang agak pemberani.
Sebelumnya aku adalah anak yang pendiam, minder, dan penakut.
Setelah satu tahun “nganggur” , aku ditawari almamaterku untuk membantu
mengajar di MIRU. Tawaran itu aku terima dengan agak berat hati karena aku
kurang pede. Aku mengajar hanya 2 hari perminggu. Termasuk yang kuajar
isteriku yang sekarang. Meskipun sudah mengajar, aku juga masih biasa
“ngarit” lewat depan madrasah. Malu kadang, tapi apa boleh buat nggak ada
pilihan lain. Mengajar ini aku jalani hanya 2 tahun. Aku mengundurkan
diri karena kekurangpedeanku tadi.
Dua bulan setelah itu aku dapat tawaran mengajar di Lamongan. Tawaran pun
kuterima. Aku berangkat ke Lamongan k di daerah Mantub (?). Aku di Mantub hanya
3 hari. Penyebabnya karena di daerah itu ada peristiwa orang Jombang yang
menjadi khatib (pengkhutbah di masjid) di tangkap polisi karana
materinya menyinggung salah satu partai pemerintah orde baru –ketika itu
garang-garang dan otoriternya partai pemeintah. Akhirnya aku disuruh pulang
sementara menunggu usai pemilu 1986. Di waktu jeda menunggu itu aku di datangi
tetanggaku yang menjadi guru di Sidoarjo. Beliau datang sehabis Maghrib. Tujuannya
aku diajak ke Sidoarjo saat itu juga “dipaksa”untuk mengajar di salah satu
madrasah. Sebenarnya aku tidak siap atau paling tidak aku minta berfikir barang
seminggu saja. Sebab aku telah ada janji dengan di Lamongan,
Tapi beliau tetap memaksa dan harus mau sebab besok sekolah mulai masuk.
Akhirnya aku dengan berat hati nurut juga.
AKU DI SIDOARJO
Sekitar jam 7 malam aku dibonceng motor melaju sangat kencang. Pikiranku
berkecamuk tidak karuan. Apa yang terjadi sesampainya di sana. Seperti mimpi.
Sebab tiba-tiba aku harus pergi ke tempat yang tidak pernah kurencanakan hingga
2 jam lalu. Bagaimana dengan janjiku dengan pengurus di Lamongan. Motor terus
menderu membelah kota demi kota yang berselimut dinginnya malam. Alhamdulillah
akhirnya aku tiba di tempat sekitar jam 9.30 malam. Tiba di suatu desa yang
sangat asing bagiku meskipun aku pernah mendengar desa itu. Sawohan
namanya. Sebuah desa yang paling ujung timur di kecamatan Buduran. Atau skitar
5 km selatan bandara Juanda. Desa yang sebagian besar wilayahnya berupa area
tambak. Airnya payau dan sebagian besar asin. Mayoritas penduduknya
bekerja di tambak yang menghasilkan udang windu dan bandeng. Aku dibawa ke
sebuah asrama guru. Di situ sudah ada teman guru dari Jombang dan Kediri.
Benar. Pagi itu aku langsung disuruh masuk sekolah. Kaget juga. Menurut
penilianku pada waktu itu, anak didiknya tidak sama karakternya dengan yang
biasa kuhadapi di Jombang.
Lebih dari 2 tahun aku di Sawohan merasa tidak krasan. Penyebabnya adalah
faktor makanan. Setiap hari kami bertiga makan dikirim oleh pengurus MI.
Lauknya sering berupa ikan dan olahannya. Sedangkan aku tidak begitu suka
dengan ikan. Belum lagi jenis masakannya jelas berbeda dengan masakan yang
kumakan setiap hari di Jombang. Saya dapat bertahan dengan cara membeli lauk.
Kadang rujak atau telur asin. Dan betul-betul mulai kerasan ketika aku membeli
peralatan dapur. Berbekal kemampuanku memasak di rumah bisa membuat lauk yang
fariatif. Kadang tahu, tempe, aneka sambal atau bikin mie instan.
AKU MENIKAH
Pada tahun 1990 tepatnya tanggal 29 Desember aku menikah dengan gadis sedesaku.
Dia muridku ketika aku mengajar di Jombang. Ketika itu isteriku masih mondok di
Tambakberas Jombang. Ketika menikah isteriku masih duduk di kelas 2 MAN
Tambakberas. Umur kami selisih 8 tahun. Anehnya meski kami akad nikah tahun
1990 resepsinya 2 tahun sesudahnya tepat dilaksanakan pada tahun 1992. Ada
cerita lucu. Ketika itu aku pesan undangan dengan draf akad nikah 29
Desember 1990 . Pembuat undangan ketika akan mencetak, tidak jadi karena
ragu terhadap tahun akad nikah dan akhirnya dia kembali menemui saya untuk
menanyakan kebenaran draf yang saya buat itu.
Setahun berikutnya, aku mulai dikaruniai putra berturut-turut :
1. Muhammad
Hazim Akbar Enha (Muhammad yang tegar dan besar) panggilan AAK
lahir tanggal 2 Juni 1993, bekerja di Telkom Sidoarjo.;
2. Muhammad
Jihad Fisabilillah Enha (Muhammad
berjuang di jalan Allah) panggilan ABING lahir
tanggal 21 November 2003, di MI "Umar Zahid" Semelo Perak Jombang.
3. Sayyidah
Aisha Al-Khumaira Enha (Tuan
Aisha yang kemerah-merahan) panggilan AICHA lahir
tanggal 10 Juni 2011, balita.
KELIMA SAUDARAKU :
1.
NURUL HUDA (saudara tiri) : sekarang menjadi anggota TNI sebagi JURKESLAP (Juru Kesehatan Lapangan)
atau dokternya tentara. Sekarang bermukim
di Sampit Kalimantan Tengah.
2.
NUHIN
(saya sendiri) : sekarang buruh tani (buruh ngramut
anak petani) di Sidoarjo
3.
MUHSIN
(saudara tiri) : sekarang menjadi Pejabat Kesra di
Jombang
4.
KHOLIDIN
(saudara seayah seibu) : sekarang memiliki yayasan
pendidikan
PAUD dan TK Sabilul Muttaqin di Ngoro Mojokerto
5.
MUSTHOFA
(saudara seayah lain ibu) : sekarang menjadi anggota TNI di Jombang
