Headlines News :
Home » » AUTOBIOGRAFIKU

AUTOBIOGRAFIKU

Written By NUHIN on Sabtu, 24 Maret 2012 | 18.54



Mendung hitam kelam menutupi kota Jombang. Sungai Berantas jebol dengan suara yang gemuruh. Hujan abu turun dengan pekatnya. Orang-orang panik berlarian ke sana kemari tidak tahu arah tujuan kadio gabah diinteri (seperti padi ditampi). Mereka menganggap kiamat telah datang. Makin siang air bah makin meninggi sehingga rumah-rumah hanya kelihatan atap-atapnya. Orang-orang masing-masing berusaha menyelamatkan diri sendiri dari banjir pandang begitu cepat tersebut.
Hari itu (Kamis pahing, 11 Desember 1964 (?) lahirlah bayi yang menambah isi dunia yaitu aku. Karena aku lahir di tengah banjir dan ditolong oleh team SAR ke dalam perahu maka orang tuaku tafa’ul kepada nabi yang  yang mengalami peristiwa banjir yaitu nabi Nuh sehingga aku diberi nama Nuh(in).
Aku lahirkan di desa Brangkal Perak Jombang. Aku anak pertama yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat kekurangan. Ayahku bekerja sebagai pencari kayu di hutan  sedangkan ibuku sebagai ibu rumah tangga yang sakit-sakitan karena terkena radang paru-paru. Ibu sering keluar masuk rumah sakit Karangmenjangan. Bahkan sering terpaksa aku tinggal di Surabaya  karena ibu harus di rumah sakit berbulan-bulan.
Ketika kau berumur sekitar 3 tahun, aku mempunyai adik perempuan. Tetapi dia tidak berumur panjang. Dia meninggal ketika masih bayi. Sekitar setahun berikutnya aku mempunyai adik lagi laki-laki. Setelah lahir adikku kedua ini, ibuku sakit paru-paru  semakin parah yang mengakibatkan meninggal dunia ( اللهم اغفرلها وارحمها وعافها واعف عنها) . Sepeninggal ibuku, aku dan adikku sehari-hari diasuh oleh nenekku.


AKU MASUK SEKOLAH
Ketika  aku umur 5 tahun aku mulai masuk TK di dekat rumahku. Aku kurang ingat peristiwa yang terjadi ketika aku di TK. Yang kuingat hanya guruku yang sampai sekarang masih hidup semua. Antara lain : Bu Zaidah, Bu Mu’ah, Bu Umi, Bu Nas, dan Bu Masri’ah. Aku di TK selama 2 tahun kemudian ke madrasah ibtidaiyah di yayasan yang sama.

AKU MASUK MI
          Aku masuk madrasah ibtidaiyah pada tahun 1971 di MINU Brangkal (sekarang berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Raudlatul Ulum (MIRU). Madrasahku menerapkan kurikulum semi diniyah. Selain pelajaran pelajaran umum yang sama dengan SD, terdapat konten pelajaran pondok pesantren. Antara lain ada ilmu alat (nahwu, sharaf, I’lal), tajwid (hidayatush shibyan, tuhfatul athfal), aqidah-akhlaq (aqidatul awam, ta’limul muta’allim), tarih/sejarah Islam (khalashatu nurul yaqin),
          Pada waktu kelas tiga, ayahku kawin lagi. Ibu tiriku mempunyai dua anak laki-laki sedangkan ayahku juga mempunyai dua anak laki-laki. Jadi kami menjadi berempat. Meskipun ibu tiri, ibuku tidak seseram yang seperti sering ada dalam cerita film atau sinetron. Ibuku tidak pernah memarahiku sekalipun. Dia tidak pernah membeda-bedakan semua anaknya. Setahun kemudian aku mempunyai adik laki-laki. Maka genapkan lima bersaudara lelaki semua.
Di waktu MI aku hidup dalam keluarga yang serba kekurangan. Selama di MI belum pernah aku diberi uang saku oleh orang tua saya. Pakaian sekolahku hanya satu setel. Baju dan celana kolor yang setiap saat dipelorot teman-temanku. Apalagi aku adalah anak yang paling kalahan di antara sebayaku. Meski serba kekurangan, tidak menyurutkan aku untuk selalu berprestasi dalam belajar. Ketika naik kelas enam, aku mulai memakai sepatu dan mulai mempunyai seragam pramuka. Sekaligus pertama kali sekolahku mengikuti perkemahan di tingkat kecamatan.
          Alhamdulillah selama aku di MI mulai kelas 1 sampai kelas VI, selalu mendapat rangking pertama. Guru favoritku adalah Pak Muslimin, dan Pak Manshur Asmu’i.

AKU MASUK SLTP
          Aku sekolah di SMP Al-huda di desaku sendiri sekitar 3 km dari rumahku. Di SMP aku sering berjalan kaki jika sepeda bututku rusak. Di SMP pun saya tidak pernah diberi uang saku. Alhamdulillah aku juga selalu mendapat rangking pertama selama di SMP. Bahkan di ujian akhir aku mendapat bea siswa dari Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) di Bogor. Persyaratan pun telah dikirim oleh Pak Yusdi sekarang sudah wafat.( اللهم اغفرله وارحمه وعافه واعف عنه), tapi satu minggu sebelum berangkat, kubatalkan sepihak karena pertimbangan jauh dari orang tua. Maklum pikiran anak masih SMP ketika itu. Pak Yus pun marah–aku maklum atas marahnya Pak Yus karena beliau sudah melengkapi persyaratan lalu mengirimkannya dan juga beliau bangga karena anak didiknya ada yang dapat bea siswa. Akhirnya aku memutuskan tidak melanjutkan lagi ke SLTA karena ketidakadaan biaya sekolah.
Guru favoritku, Pak Yusdi Ghozali dan Pak Mas’ud.

AKU MASUK SLTA
          Selama hampir empat bulan setelah taman SMP, aku beraktifitas membantu orang tua menjadi buruh tani karena sudah tidak bersekolah. Maklum karena tidak punya sawah.  Selain mencangkul, juga memelihara kambing dan kerbau.
Suatu pagi hari ada utusan dari Pak Yus yang menanyakan kepadaku mengapa aku  tidak sekolah. Yang akhirnya PakYus menawarkan jika saya mau saya dimasukkan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kertosono. Dalam hatiku bertanya apa bisa sekolah sedangkan sekolah sudah berjalan empat bulan, ke sekolah negeri pula. Aku pun mengiyakannya. Akhirnya aku diberi surat katebelece dari pak Yus untuk dibawa ke MAN tersebut. Dan Alhamdulillah aku diterima berkat usaha dari Pak Yus.
Sekolahku kurang lebih 15 km dari rumahku. Harus melewati Sungai Brantas pula. Aku bersekolah menggunakan sepeda butut yang diberi Bude dari Surabaya. Kadang sering sepeda itu los sehingga telat sampai di sekolah. Aku menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, aku berangkat sebelum pukul 06.00 pagi.  Sekali lagi, saya tidak pernah diberi sangu oleh orang tuaku. Jangankan sangu, sarapan pun kadang ada kadang tidak. Kadang ada sarapan tapi masih setelah matang dan pernah beberapa kali sarapan nasi jagung basi sisa hari sebelumnya.
Memang. Disaat aku SMA ini,  keluargaku betul-betul dalam titik kritis di bidang ekonomi. Ayahku buruh tani yang upahnya dibuat membeli beras saja tidak cukup. Anaknya lima bersekolah semua. Setiap hari kami hanya makan nasi jagung tanpa lauk. Bahkan sering hanya makan ubi yang diberi garam. Tapi orangtuaku mempunyai falsafah yang sederhana tapi mempunyai arti yang sangat dalam. Setiap kali kami makan ketela mereka selalu berkata “Wong gak nitik telekmu tapi nitik kepinteranmu” (Orang tidak melihat kotoranmu tapi melihat kepandaianmu)”. Maksudnya, makan tidak menjadi prioritas tapi pendidikan yang dinomorsatukan. Sekolahlah yang penting.
Yang tidak bisa hilang dari ingatanku, ketika aku setengah tahun menjelang ujian akhir MAN. Sekolahku mengadakan les pada sore hari sekitar jam 15.00 dan pulang jam 17.00. Kalau Saya pulang gak mungkin. Perjalanan pulang balik 2 jam belum untuk makan dan lain –lain. Solusinya setelah pulang sekolah, aku tidur di masjid pondok. Sementara itu teman-temanku yang lain pergi ke warung untuk makan siang. Bila aku lapar atau haus, aku hanya minum air sumur masjid. Jadi selama sehari penuh, aku tidak makan. Hal ini aku jalani sampai tiba masa ujian akhir. Tahun 1983 aku tamat dari MAN.

MENJADI AKTIFIS
          Setelah lulus MAN aku tidak punya planning sama sekali. Rutinitasku pagi ke sawah sampai jam 10.00 sore kembali ke sawah jam 1 sampai jam 5 sore. Malam ke masjid sampai pagi. Monoton sekali. Perlu diketahui tradisi anak di desaku tidak ada anak remaja yang tidur di rumah. Hampir semua tidur di musholla (langgar) atau di masjid. Sejak SMP kelas 1 aku sudah tidak pernah tidur di  rumah. Selain bisa sholat Shubuh, menjadi aktifis masjid dapat mengikuti kegiatan keagamaan, antara lain : dibaiyah, hadrah (terbangan), dan barzanji.
          Sedang organisasi struktural yang saya ikuti adalah Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama’ (IPNU) baik tingkat ranting maupun tingkat MWC (tingkat Kecamatan). Di organisasi itulah saya menjadi  orang yang agak pemberani. Sebelumnya aku adalah anak yang pendiam, minder, dan penakut.
          Setelah satu tahun “nganggur” , aku ditawari almamaterku untuk membantu mengajar di MIRU. Tawaran itu aku terima dengan agak berat hati karena aku kurang pede. Aku mengajar hanya 2 hari perminggu. Termasuk yang kuajar isteriku  yang sekarang. Meskipun sudah mengajar, aku juga masih biasa “ngarit” lewat depan madrasah. Malu kadang, tapi apa boleh buat nggak ada pilihan lain. Mengajar ini aku jalani hanya 2 tahun.  Aku mengundurkan diri karena kekurangpedeanku tadi.
          Dua bulan setelah itu aku dapat tawaran mengajar di Lamongan. Tawaran pun kuterima. Aku berangkat ke Lamongan k di daerah Mantub (?). Aku di Mantub hanya 3 hari. Penyebabnya karena di daerah itu ada peristiwa orang Jombang yang menjadi khatib (pengkhutbah di masjid) di tangkap polisi karana  materinya menyinggung salah satu partai pemerintah orde baru –ketika itu garang-garang dan otoriternya partai pemeintah. Akhirnya aku disuruh pulang sementara menunggu usai pemilu 1986. Di waktu jeda menunggu itu aku di datangi tetanggaku yang menjadi guru di Sidoarjo. Beliau datang sehabis Maghrib. Tujuannya aku diajak ke Sidoarjo saat itu juga “dipaksa”untuk mengajar di salah satu madrasah. Sebenarnya aku tidak siap atau paling tidak aku minta berfikir barang seminggu saja. Sebab aku  telah ada janji dengan di Lamongan,  Tapi  beliau tetap memaksa dan harus mau sebab besok sekolah mulai masuk. Akhirnya aku dengan berat hati nurut juga.

AKU DI SIDOARJO
          Sekitar jam 7 malam aku dibonceng motor melaju sangat kencang. Pikiranku berkecamuk tidak karuan. Apa yang terjadi sesampainya di sana. Seperti mimpi. Sebab tiba-tiba aku harus pergi ke tempat yang tidak pernah kurencanakan hingga 2 jam lalu. Bagaimana dengan janjiku dengan pengurus di Lamongan. Motor terus menderu membelah kota demi kota yang berselimut dinginnya malam. Alhamdulillah akhirnya aku tiba di tempat sekitar jam 9.30 malam. Tiba di suatu desa yang sangat asing bagiku meskipun aku pernah mendengar desa itu. Sawohan namanya. Sebuah desa yang paling ujung timur di kecamatan Buduran. Atau skitar 5 km selatan bandara Juanda. Desa yang sebagian besar wilayahnya berupa area tambak. Airnya payau dan sebagian besar asin.  Mayoritas penduduknya bekerja di tambak yang menghasilkan udang windu dan bandeng. Aku dibawa ke sebuah asrama guru.  Di situ sudah ada teman guru dari Jombang dan Kediri.
          Benar. Pagi itu aku langsung disuruh masuk sekolah. Kaget juga. Menurut penilianku pada waktu itu, anak didiknya tidak sama karakternya dengan yang biasa kuhadapi di Jombang.
          Lebih dari 2 tahun aku di Sawohan merasa tidak krasan. Penyebabnya adalah faktor makanan. Setiap hari kami bertiga makan dikirim oleh pengurus MI. Lauknya sering berupa ikan dan olahannya. Sedangkan aku tidak begitu suka dengan ikan. Belum lagi jenis masakannya jelas berbeda dengan masakan yang kumakan setiap hari di Jombang. Saya dapat bertahan dengan cara membeli lauk. Kadang rujak atau telur asin. Dan betul-betul mulai kerasan ketika aku membeli peralatan dapur. Berbekal kemampuanku memasak di rumah bisa membuat lauk yang fariatif. Kadang tahu, tempe, aneka sambal atau bikin mie instan.

AKU MENIKAH
          Pada tahun 1990 tepatnya tanggal 29 Desember aku menikah dengan gadis sedesaku. Dia muridku ketika aku mengajar di Jombang. Ketika itu isteriku masih mondok di Tambakberas Jombang. Ketika menikah isteriku masih duduk di kelas 2 MAN Tambakberas. Umur kami selisih 8 tahun. Anehnya meski kami akad nikah tahun 1990 resepsinya 2 tahun sesudahnya tepat dilaksanakan pada tahun 1992. Ada cerita lucu. Ketika itu aku pesan undangan dengan draf akad nikah 29  Desember 1990 . Pembuat undangan ketika akan mencetak, tidak jadi karena ragu terhadap tahun akad nikah dan akhirnya dia kembali menemui saya untuk menanyakan kebenaran draf yang saya buat itu.
          Setahun berikutnya, aku mulai dikaruniai putra berturut-turut :
1.    Muhammad Hazim Akbar Enha (Muhammad yang tegar dan besar) panggilan AAK lahir tanggal 2 Juni 1993, bekerja di Telkom Sidoarjo.;
2.   Muhammad Jihad Fisabilillah Enha (Muhammad berjuang di jalan Allah) panggilan ABING lahir tanggal 21 November 2003, di MI "Umar Zahid" Semelo Perak Jombang.
3.   Sayyidah Aisha Al-Khumaira Enha (Tuan Aisha yang kemerah-merahan) panggilan AICHA lahir tanggal 10 Juni 2011, balita.

       KELIMA SAUDARAKU :
1.            NURUL HUDA (saudara tiri) : sekarang menjadi anggota TNI sebagi JURKESLAP (Juru Kesehatan Lapangan) atau dokternya tentara.  Sekarang  bermukim di Sampit Kalimantan Tengah.
2.           NUHIN  (saya sendiri) : sekarang buruh tani (buruh ngramut anak petani) di Sidoarjo
3.           MUHSIN        (saudara tiri) : sekarang menjadi Pejabat Kesra di Jombang
4.           KHOLIDIN     (saudara seayah seibu) : sekarang memiliki yayasan pendidikan                     PAUD dan TK Sabilul Muttaqin di Ngoro Mojokerto
5.           MUSTHOFA      (saudara seayah lain ibu) : sekarang menjadi anggota TNI di Jombang










Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Nuhin Yede - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger